SELAMAT DATANG DI BLOG KOLEKSI TAUJIH

Semoga Bermanfaat

Selasa, 31 Januari 2012

Taujih : INDIBATH (KOMITMEN)


Penulis: Muhammad Ihsan Setiawan Ihsan (Mesir)

alhikmah.com - Hudzaifah ra berkata, Rosulullah SAW bersabda
pada suatu malam di perang Khondak (Ahzab) kepada para
sahabatnya : 'Siapa diantara kalian yang mau melakukan
pengintaian untuk melihat kondisi pasukan Quraisy dan
koleganya kemudian kembali untuk memberitahukan kondisi
mereka, maka saya akan memohon kepada Allah untuk menjadinya
teman saya di surga ?'. Tiada satupun diantara para sahabat
yang bersegera melaksanakan permintaan Rosulullah karena
katakutan, kelaparan dan kedinginan yang luar biasa.
Tatkala Rosulullah SAW memperhatikan tak satupun diantara
para sahabatnya menyambut seruan dan jaminannya maka
Rosulullah SAW memanggil saya namun saya tidak bersegera
menyambut panggilan Rosulullah SAW. Kemudian Rosulullah SAW
memanggil saya kembali dan bersabda : 'wahai Hudzaifah,
berangkatlah dan menyusuplah di tengah pasukan musuh serta
selidikilah apa yang mereka lakukan dan ingat jangan
melakukan sesuatu tindakan sampai kembali kepadaku dan
mengabarkan hasilnya !'. Maka saya berangkat dan menyusup
ditengah-tengah musuh yang sedang mendapatkan serangan hebat
berupa angin kencang dan tentara Allah lainnya.

Terdengar suara Abu Sofyan berkata : 'Wahai kaum Quraisy,
setiap kalian coba tanya siapa teman disampingnya ?' maka
saya segera memegang tangan laki-laki yang berada di sebelah
kanan dan kiri saya dan bertanya : ' siapa kamu ?' maka
seorang diantara mereka menjawab : Mua'awiyah bin Abi
Sofyan' dan lainnya menjawab : 'Amru bin 'Ash '. lalu Abu
Sofyan berkata : kembalilah kalian ke Makkah karena saya
akan kembali !'. Kemudian Hudzaifah melanjutkan ceritanya :
'Kalau saja tidak ada perjanjian antara saya dengan
Rosulullah SAW untuk tidak melakukan sesuatu sampai datang
ke Rosulullah SAW tentu aku akan membunuh Abu Sofyan dengan
panahku.'

Maka Hudzaifah ra kembali ke Rosulullah SAW dan memdapatkan
beliau sedang melakukan sholat. Setelah beliau selesai
menunaikan sholat maka saya kabari kondisi musuh dan apa
yang mereka lakukan. Kisah ini menunjukan akan urgennya
keindhibathan dan keiltizaman terhadap tugas yang dibebankan
seorang Qoid (pemimpin) kepada junudnya (tanpa melakukan
ijtihad) walaupun ijtihad yang dilakukan dapat memberikan
suatu manfaat.

Bila kita melirik dan bertanya kepada kondisi kita apakah
kita sudah indhibath terhadap segala aktivitas yang kita
lakukan baik skala individu maupun jama'i ? contoh kecil
adalah masalah waktu.

Bagi setiap kader dakwah dituntut untuk indhibath dalam
setiap detik dari waktu yang Allah berikan kepadanya plus
waktu saudaranya. Berapa banyak bila kita menyia-yiakan
waktu yang berakibat hilangnya kemaslahatan, rusak dan
gagalnya suatu rencana dan target ? bahkan berapa banyak
perjuangan yang hancur di kalahkan musuh karena teledor
dalam pensiasatan waktu ? gagal dan lalainya seorang
ikhwah/akhwat dalam pengaturan waktu dan aktivitasnya maka
secara langsung ataupun tidak langsung akan mempengaruhi
gerak dan perjalanan kereta dakwah.

Bukankah kita adalah satu badan, yang mana bila salah satu
anggota tubuh sakit maka anggota tubuh lainnya akan
merasakan sakit ?. Bukankah kita terikat dengan amal jama'i
yang satu dengan lainnya saling menopang dan melengkapi ?.
Kalau diperumpamakan membangun suatu bangunan maka
masing-masing pekerja memiliki tugas dan peranan tersendiri.

Bila saja salah seorang pekerja kurang cermat dalam
menentukan ukuran dan takaran bahan bangunan maka akan
menimbulkan efek yang negatif terhadap bangunan tersebut
baik cepat ataupun lambat. Terakhir ada dua buah kisah
keindhibathan yang bisa kita ambil sebagai pelajaran dan
motivasi untuk membentuk jati diri yang indhibath.

Suatu hari Ustadz Hasan Al-Banna dan beberapa ikhwah sepakat
untuk mengadakan pertemuan di taman umum, ada diantara
ikhwah yang datang lebih cepat (mubakir) beberapa saat dari
janji yang disepakati dan sebagian lainnya datang tepat pada
waktunya, maka imam syahid menyalami para ikhwah dengan
senyuman penuh makna kecuali ikhwah yang datang lebih cepat
dari waktunya dengan senyuman yang dingin sambil berkata :
setiap kalian tepat waktu kecuali saudara kalian ini ...
disini memberikan pelajaran bahwa datang lebih cepat dari
waktunya disamakan dengan datang terlambat dan kedua-duanya
tidak benar dan tertolak.

Dalam suatu pertemuan perdana dengan imam Hudaibi dengan
beberapa ikhwah setelah beliau mengemban amanah
kepemimpinan, lalu beberapa ikhwah datang kerumah beliau
beberapa menit sebelum waktu yang di sepakati maka beliau
tidak membukakan pintu dan membiarkan mereka menunggu
didepan pintu hingga datang waktu yang disepakati, ketika
waktunya tiba maka beliau menyuruh mereka masuk dan menutup
pintu kembali dan tidak mengizinkan masuk kepada ikhwah yang
terlambat.

Wallahua'lam bish showab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar