SELAMAT DATANG DI BLOG KOLEKSI TAUJIH

Semoga Bermanfaat

Sabtu, 26 Januari 2013

Taujih : Mengapa Ibadah Terasa Hambar?

dakwatuna.com - Mengapa kebanyakan kita sangat tidak mudah untuk bisa merasakan nikmatnya keimanan, lezatnya ketaatan, khusyuknya peribadahan dan manisnya amal kebajikan? Umumnya karena level keberagamaan yang masih bersifat setengah-setengah, atau bahkan lebih rendah lagi.
Level dan sifat keberagamaan mayoritas kita umumnya masih berada di tataran seremoni (semangat peringatan-peringatan), atau formalitas, atau maksimal wacana pemikiran teoritis belaka. Padahal keimanan dan keislaman sejati itu seharusnya benar-benar bisa merasuk ke hati, menyatu dengan jiwa, dan mewujud dalam rasa cinta dan ridha nan nyata.
Agar bisa merasakan nikmatnya amal saleh dan khusyuknya ibadah, kita memang harus beragama setotal mungkin. Dan syarat mutlaknya adalah, hawa nafsu harus mampu ditundukkan dan dikendalikan.  Karena selama masih ada hawa nafsu tertentu yang secara permanen atau hampir permanen selalu diperturutkan, selama itu pula sikap ogah-ogahan akan senantiasa menyertai pelaksanaan setiap amal saleh dan penunaian setiap ibadah. Karena umumnya ketaatan itu memang masih disikapi sebagai beban berat yang harus ditanggung dan dilepaskan, dan belum dirasakan sebagai kebutuhan hidup yang dirindukan rasa nikmatnya dan buah lezatnya.
Allah Ta’ala berfirman (yang artinya):
“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan (secara total), dan janganlah kamu turut langkah-langkah syetan. Sesungguhnya syetan itu musuh yang nyata bagimu.” (Al-Baqarah: 208)
Dan Baginda Sayyiduna Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya): Tak sempurna iman seseorang dari kalian sampai hawa nafsunya tunduk mengikuti ajaran yang aku bawa (Imam An-Nawawi rahimahullah berkata dalam kitab Al-Arba’in An-Nawawiyah: Hadits hasan shahih yang kami riwayatkan dalam kitab Al-Hujjah dengan sanad yang shahih).
Dalam hadits lain, Nabiyullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda (yang artinya):
“Telah bisa merasakan nikmat/lezatnya iman, orang yang telah ridha terhadap Allah sebagai Tuhan (nya), ridha terhadap Islam sebagai agama (nya) dan ridha terhadap Muhammad (shallallahu ‘alaihi wasallam) sebagai rasul (nya).” (HR. Muslim dari Al-‘Abbas radhiyallahu ‘anhu).
Dan di dalam riwayat yang lain lagi Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya):
Ada tiga hal di mana jika ketiganya ada dalam diri seseorang, maka ia bisa merasakan manisnya iman, yaitu: 1). Jika Allah dan Rasul-Nya telah ia cintai melebihi kecintaannya terhadap selain keduanya; 2). Jika ia mencintai seseorang benar-benar hanya karena Allah; dan 3). Jika ia benci untuk kembali kepada kekufuran seperti kebenciannya andai ia dilemparkan ke dalam api.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu).
Jadi rumusnya adalah: Tak memperturutkan hawa nafsu/menundukkan dan mengendalikannya = tak mengikuti langkah-langkah syetan = beriman dengan sepenuh rasa cinta hati dan ridha jiwa = berislam secara total = manisnya beriman, nikmatnya berislam dan lezatnya berketaatan!
Sedangkan rumus sebaliknya ialah: Memperturutkan hawa nafsu = mengikuti langkah-langkah syetan = beriman sebatas teori logika, tak turun ke hati, dan tak sampai menjiwai = berislam secara setengah-setengah = beriman sebagai beban, beribadah terasa hambar, dan berketaatan terpaksa dan menjenuhkan!
Sumber: http://www.dakwatuna.com 

Selasa, 22 Januari 2013

Taujih : Perdalam Samudera Keikhlasanmu !

Oleh: Ust. Cahyadi Takariawan
Add caption
Ini termasuk pesan yang sangat ingin aku sampaikan: perdalam samudera keikhlasanmu. Realitas lapangan dakwah mengajarkan hal penting kepada kita, bahwa daya tahan di dalam mengarungi perjuangan sangat ditentukan oleh sebesar apa penjagaan keikhlasan dalam diri kita. Sangat banyak kejadian dan kondisi jalan dakwah yang bisa mengganggu kaikhlasan. Sesiapapun akan diuji keikhlasannya di jalan ini: yang “berhasil” menjadi pejabat publik, yang “tidak berhasil” menjadi pejabat publik, yang “tidak pernah” menjadi pejabat publik, yang “selalu” menjadi pejabat publik…..
Semua dari kita diuji. Yang menjadi caleg, yang menjadi aleg, yang menjadi aktivis mahasiswa, yang menjadi aktivis sosial, yang menjadi ibu rumah tangga, yang menjadi murabbi, yang menjadi pengurus partai, yang menjadi petani….. Semuanya, ya semuanya selalu dihadapkan kepada ujian yang kadang bisa mengganggu keikhlasan.
Perasaan Berjasa: Ini Hasil Kerja Saya!
Ketika dakwah menunjukkan hasil-hasil dan prestasi yang menggembirakan, wajar jika muncul perasaan kebanggaan pada pelakunya. Ini perasaan yang sangat manusiawi. Namun perasaan ini jangan dibiarkan berkembang menjadi klaim atas usaha pribadi dan meremehkan kerja orang lain. Karena dalam setiap keberhasilan dakwah, pasti akan dijumpai peran semua pihak dalam mencapai keberhasilan tersebut, sekecil atau sebesar apapun.
“Kalian tahu, siapa yang telah melakukan perubahan spektakuler, sehingga tercipta hasil yang sangat menakjubkan ini? Tidak ada lain yang bisa melakukannya, kecuali saya. Semua saya kerjakan sendiri”, pernyataan ini sangat mungkin benar sesuai realitas yang ada. Namun ungkapan ini bisa menjadi awal dari munculnya kesombongan, apabila merasa bahwa kehebatan dirinya tidak ada yang menandingi, dan meremehkan peran orang lain.
“Payah benar kader di sini. Tidak ada yang mau bekerja. Kalau saja saya tidak bergerak, Pemilu kemarin hasilnya tidak akan sebagus ini.”
“Kemenangan Pilkada di daerah ini adalah hasil kerja keras dan jerih payah saya. Pengorbanan yang saya berikan telah membuahkan hasil berupa kemenangan gemilang. Jika saya tidak terlibat, saya tidak bisa bayangkan apa yang akan terjadi”.
“Organisasi dakwah ini menjadi besar dan berkembang pesat, karena usaha yang saya lakukan. Kader-kader lain tidak memiliki peran dan keterlibatan, sehingga terpaksa saya bekerja sendiri. Alhamdulillah hasilnya signifikan”.
Masyaallah. Benarkah kita bisa bekerja sendiri ? Dalam sistem amal jama’i yang dibangun organisasi dakwah, seluruh bagian akan saling berkait, berhubungan dan mempengaruhi. Kita tidak bisa melepaskan diri dari pengaruh bagian lain yang ada dalam mesin amal jama’i ini. Ibarat mesin mobil, semua komponen saling berpengaruh dan berhubungan. Laju mobil merupakan hasil kerja simultan seluruh bagian.
Bisa jadi memang ada bagian atau komponen dalam organisasi dakwah yang senyatanya menjadi beban bagi yang lainnya. Namun itu tidak memberikan makna bahwa semua orang menjadi beban, dan hanya seseorang atau segelintir orang saja yang punya peran. Bisa jadi memang ada kader yang pasif dan tidak banyak kontribusi, namun itu bukan berarti semua kader memiliki kondisi kelemahan serupa. Seakan-akan kontribusi hanya menjadi milik seseorang atau segelintir orang yang sangat hebat dalam organisasi dakwah.
Lalu dimana letak ikhlas itu? Kalau kita merasa memiliki banyak peran, banyak kontribusi, banyak keberhasilan, banyak capaian, kemudian mengecilkan bahkan meniadakan peran yang lain, dimana ikhlas itu?
Perasaan Melempar: Siapa Yang Salah?
Ketika dakwah mencapai kemenangan tidak layak ketika ada pihak yang merasa berjasa sendirian. Sebagaimana pada saat dakwah tidak berhasil mencapai target kemenangan, sangat tidak etis jika muncul suasana saling menyalahkan. Masing-masing pihak merasa tidak bertanggung jawab dan melempar kesalahan kepada pihak lainnya.
”Kita kalah dalam Pemilu gara-gara departemen Fulan yang tidak bekerja. Mereka bersantai-santai saat kita bekerja keras, akhirnya mengacaukan semua target.”
”Target tidak berhasil kita capai karena kelemahan bidang Anu. Pengurus bidang Anu tidak becus mengurus programnya sehingga membuat semua bagian ikut berantakan. Kita sudah bekerja habis-habisan, akhirnya tidak ada gunanya.”
”Kita gagal mencapai target karena kader tidak bersemangat dan tidak mau berkorban. Program sudah bagus, sarana pendukung sudah disiapkan, namun kadernya tidak mau bekerja, maka kita kalah.”
”Kekalahan kita disebabkan tidak tegasnya pimpinan. Para kader sudah sangat bersemangat dan siap bekerja, namun pimpinan tidak memiliki ketegasan sikap, akhirnya semua menjadi kacau”.
Betapa mudah melempar kesalahan. Ini salah siapa? Bukan salah saya, ini salah Fulan, ini salah kader, ini salah pengurus, ini kesalahan Ketua, ini kesalahan bendahara, ini kesalahan sekretaris, ini salah kaderisasi, ini salahnya si Kodok… Bukan, bukan salah saya…. Saya sih tidak punya salah….
Dimana letak keikhlasan kita?

Wahai Manusia, Segeralah kembali kepada Allah SWT


Segala puji hanya milik Allah semata, shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan orang-orang yang mengikutinya.
Amma Ba’du
Add caption
Sesungguhnya manusia yang berakal mengetahui bahwa keberadaannya di dunia ini hanyalah sementara. Waktu lahirnya telah ditentukan dan waktu meninggalnya tidak dapat dihindari. Manusia berada di antara dua waktu itu, baik dia suka atau tidak, patuh atau durhaka kepada Allah. Hanya orang-orang beriman yang mengerti tujuan hidup dan misi mereka diciptakan di dunia ini; karena mereka beriman dengan firman Pencipta mereka yang diturunkan pada kitab-kitab suci agama samawi. Dialah Allah yang telah mengutus para Nabi dan Rasul sepanjang sejarah dan waktu manusia hidup di dunia. Orang yang beriman mengetahui siapa diri mereka sebenarnya; karena sebelum menciptakan manusia, Allah berfirman kepada para malaikat-Nya,
إنِّي جَاعِلٌ فِي الأَرْضِ خَلِيفَةً
“…Aku hendak menjadikan khalifah di bumi…” (QS Al Baqarah: 30)
Manusia diciptakan untuk menjadi khalifah di muka bumi. Tugasnya sesuai dengan semua makna yang terkandung dalam kata ‘khalifah’ itu, yakni memakmurkan bumi, berusaha, berjuang dan bertahan untuk hidup. Allah Ta’ala berfirman,
هُوَ أَنشَأَكُم مِّنَ اْلأَرْضِ واسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا
“…Dia telah menciptakanmu dari bumi (tanah) dan menjadikanmu pemakmurnya….” (Huud: 61).
Manusia beriman mengetahui –seperti yang telah difirmankan Tuhannya di dalam Al-Qur`an- bahwa dia adalah makhluk yang mulia dan satu-satunya makhluk yang diajarkan ilmu pengetahuan. Allah Ta’ala memerintahkan para malaikat untuk sujud kepada Adam Alaihissalam, menundukkan baginya semua kekuatan yang tersembunyi di alam semesta, dan mengajarkannya apa yang tidak diketahuinya. Allah Ta’ala telah berfirman,
ولَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِى آدَمَ وحَمَلْنَاهُمْ فِى البَرِّ والْبَحْرِ ورَزَقْنَاهُم مِّنَ الطَّيِّبَاتِ وفَضَّلْنَاهُمْ عَلَى كَثِيرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلاً
“Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam, dan Kami angkut mereka di darat dan di laut, dan Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna.” (QS Al Israa`: 70)
Firman Allah Ta’ala,
وسَخَّرَ لَكُم مَّا فِي السَّمَوَاتِ ومَا فِي الأَرْضِ جَمِيعًا مِّنْهُ
“Dan Dia menundukkan apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi untukmu semuanya (sebagai rahmat) dari-Nya…” (QS Al Jaatsiyah13).
Firman Allah Ta’ala,
وَعَلَّمَ آدَمَ اْلأَسْمَاءَ كُلَّهَا
“Dan Dia ajarkan kepada Adam nama-nama (benda) semuanya…” (QS Al Baqarah: 31).
Manusia akan menempati kedudukan yang tinggi ini jika merealisasikan ibadahnya hanya untuk Allah Ta’ala semata, berkomitmen dengan wahyu yang datang dari langit dan mengikuti ajaran agama Allah Ta’ala. Sungguh, Allah Ta’ala telah berfirman,
ومَا خَلَقْتُ الْجِنَّ واْلإنسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُونِ
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Ad-Dzaariyaat: 56)
Firman Allah Ta’ala,
واللهُ يُرِيدُ أَن يَتُوْبَ عَلَيْكُمْ ويُرِيدُ الَّذِيْنَ يَتَّبِعُونَ الشَّهَوَاتِ أَن تَمِيلُوا مَيْلاً عَظِيمًا * يُرِيدُ اللهُ أَن يُخَفِّفَ عَنكُمْ وخُلِقَ اْلإنْسَانُ ضَعِيْفًا
“Dan Allah hendak menerima tobatmu, sedang orang-orang yang mengikuti keinginannya menghendaki agar kamu berpaling sejauh-jauhnya (dari kebenaran). Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, karena manusia diciptakan (bersifat) lemah.” (QS. An-Nisaa`: 27-28)
Jika telah melaksanakan semua hal tersebut maka manusia hanya menjadi hamba Allah sehingga dia menjadi pemimpin bagi seluruh makhluk Allah di jagat raya ini tanpa terbantahkan oleh siapa pun. Kedudukan yang diberikan Allah kepada manusia inilah yang menyebabkan iblis yang terkutuk iri kepadanya. Iblis bersama keturunannya dari setan bangsa jin dan para pengikutnya dari setan bangsa manusia berusaha untuk merontokkan iman orang-orang mukmin agar dapat diazab bersama mereka dalam neraka yang menyala-nyala. Allah Ta’ala berfirman,
إنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًا إنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيْرِ
“Sungguh, setan itu musuh bagimu, maka perlakukanlah ia sebagai musuh, karena sesungguhnya setan itu hanya mengajak golongannya agar mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (QS. Faathir: 6)
Allah Yang Mahabenar telah memberitahukan kepada kita dalam firman-Nya bahwa yang membuat orang tua kita (Adam dan Hawa) keluar dari surga adalah karena tergoda bujukan setan yang terkutuk setelah mereka hidup beberapa lama di surga dalam keadaan bahagia dan sejahtera, tempat yang mana semua semua kebutuhan hidup tersedia. Allah Ta’ala berfirman tentang surga,
إنَّ لَكَ أَلا تَجُوعَ فِيهَا ولا تَعْرَى* وأَنَّكَ لا تَظْمَأُ فِيهَا ولا تَضْحَى
Sungguh, ada (jaminan) untukmu di sana, engkau tidak akan kelaparan dan tidak akan telanjang, dan sungguh, di sana engkau tidak akan merasa dahaga dan tidak akan ditimpa panas matahari.” (QS. Thaahaa: 118-119)
Godaan setan yang terkutuk telah membuat Adam dan Hawa melanggar perintah Allah yang berbunyi,
وَلا تَقْرَبَا هَذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُونَا مِنَ الظَّالِمِينَ
…Tetapi janganlah kamu berdua dekati pohon yang satu ini. (Apabila didekati) kamu berdua termasuk orang-orang yang zalim. (Al-A’raaf19)
Semua yang ada di surga boleh dimakan kecuali buah yang ada di pohon larangan. Iblis mulai menggoda Adam dan Hawa untuk mendekati pohon larangan itu dan mengatakan bahwa itu adalah pohon terbesar. Allah Ta’ala berfirman tentang bujuk rayu iblis,
هَلْ أَدُلُّكَ عَلَى شَجَرَةِ الخُلْدِ ومُلْكٍ لا يَبْلَى
“….Maukah aku tunjukkan kepadamu pohon keabadian (khuldi) dan kerajaan yang tidak akan binasa?” (Thaahaa: 120)
Firman Allah Ta’ala,
وقَاسَمَهُمَا إنِّى لَكُمَا لَمِنَ النَّاصِحِينَ
“Dan dia (setan) bersumpah kepada keduanya, “Sesungguhnya aku ini benar-benar termasuk para penasihatmu.” (QS Al A’raaf: 21)
Firman Allah Ta’ala,
فَأَزَلَّهُمَا الشَّيْطَانُ عَنْهَا فَأَخْرَجَهُمَا مِمَّا كَانَا فِيهِ
“Lalu setan memperdayakan keduanya dari surga sehingga keduanya dikeluarkan dari (segala kenikmatan) ketika keduanya di sana (surga)….” (Al-Baqarah: 36)
Sejak saat itu dimulailah perang antara manusia dan setan yang terkutuk beserta pengikutnya. Bumi telah menjadi pentas pergulatan antara yang baik dan yang jahat, antara yang benar dan yang salah, antara hidayah dan kesesatan, antara keistiqamahan dan penyimpangan dalam agama. Hikmah dari semua ini adalah sebagaimana yang digambarkan dalam firman Allah Ta’ala,
لِيَمِيزَ اللهُ الْخَبِيْثَ مِنَ الطَّيِّبِ ويَجْعَلَ الخَبِيثَ بَعْضَهُ عَلَى بَعْضٍ فَيَرْكُمَهُ جَمِيعًا فَيَجْعَلَهُ فِي جَهَنَّمَ أُوْلَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ
“Agar Allah memisahkan (golongan) yang buruk dari yang baik dan menjadikan (golongan) yang buruk itu sebagiannya di atas yang lain, lalu kesemuanya ditumpukkan-Nya, dan dimasukkan-Nya ke dalam neraka Jahanam. Mereka itulah orang-orang yang rugi.” (QS Al Anfaal: 37)
Firman Allah Ta’ala,
لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً
“…agar Dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya….” (QS.Huud: 7).
Jika seseorang menyadari realitas ini dan menyadari bahwa umurnya terbatas, tentu dia akan segera memperbanyak amalnya dan berusaha agar terlepas dari belenggu penghambaan diri kepada selain Allah Ta’ala. Dia akan segera beramal untuk tujuan yang jelas dan pasti yaitu ridha Allah di dunia ini dan di surga yang abadi nan luas di akhirat kelak. Allah Ta’ala berfirman,
وسَارِعُوا إلَى مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ والأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَ
“Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali ‘Imraan: 133)
Ketika ada rintangan yang akan membuatnya jauh dari Allah lalu iblis dan para pembantunya berusaha untuk menggodanya memburu kesenangan duniawi dan memperturutkan hawa nafsu yang menggelora, maka berkat petunjuk dari Allah dia akan menyadari bahwa orang yang memperturutkan kesenangan duniawi yang fana akan mencegahnya untuk menikmati kesenangan yang abadi di surga. Dia akan mengetahui bahwa surga tidak akan diperoleh dengan perbuatan maksiat. AllahTa’ala berfirman,
يَا بَنِى آدَمَ لاَ يَفْتِنَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ كَمَا أَخْرَجَ أَبَوَيْكُم مِّنَ الْجَنَّةِ يَنْزِعُ عَنْهُمَا لِبَاسَهُمَا لِيُرِيَهُمَا سَوْءَاتِهِمَا إنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وقَبِيْلُهُ مِنْ حَيْثُ لاَ تَرَوْنَهُمْ إنَّا جَعَلْنَا الشَّيَاطِيْنَ أَوْلِيَاءَ لِلَّذِينَ لاَ يُؤْمِنُونَ
Wahai anak cucu Adam! Janganlah sampai kamu tertipu oleh setan sebagaimana halnya dia (setan) telah mengeluarkan ibu bapakmu dari surga, dengan menanggalkan pakaian keduanya untuk memperlihatkan aurat keduanya. Sesungguhnya dia dan pengikutnya dapat melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan setan-setan itu pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman. (QS Al A’raaf: 27).
Seandainya seseorang menyadari bahwa iblis adalah musuh terbesar bagi dirinya dan keturunannya yang ingin menghalanginya dari kebaikan di dunia dan akhirat seperti yang diterangkan Allah Ta’ala dalam firman-Nya,
إنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًا إنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ
“Sungguh, setan itu musuh bagimu, maka perlakukanlah ia sebagai musuh, karena sesungguhnya setan itu hanya mengajak golongannya agar mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (QS. Faathir: 6)
Seandainya seseorang mengetahui bahwa setan itu tidak suka jika dirinya mendapatkan hidayah dan bersikap istiqamah seperti yang disebutkan dalam firman Allah Ta’ala,
ودُّوا لَوْ تَكْفُرُونَ كَمَا كَفَرُوا فَتَكُونُونَ سَوَاءً
“Mereka ingin agar kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, sehingga kamu menjadi sama (dengan mereka)….” (QS. An-Nisaa`: 89)
Sendainya seseorang menyadari hal ini tentu dia menjaga dirinya dari setan dan bala tentaranya, menyingsingkan lengan bajunya dan segera mengikuti jalan Allah dalam rangka mencari ridha-Nya dan menghindar dari godaan setan beserta golongannya. Allah Ta’ala berfirman,
فَفِرُّوا إلَى اللهِ إنِّي لَكُم مِّنْهُ نَذِيرٌ مُّبِينٌ
“Maka segeralah kembali kepada (menaati) Allah. Sungguh, aku seorang pemberi peringatan yang jelas dari Allah untukmu.” (Ad-Dzaariyaat: 50)
Firman Allah Ta’ala,
وفِي ذَلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ المُتَنَافِسُونَ
“…Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba.”(Al-Muthaffifiin26)
Firman Allah Ta’ala,
لِمِثْلِ هَذَا فَلْيَعْمَلِ العَامِلُونَ
“Untuk (kemenangan) serupa ini, hendaklah beramal orang-orang yang mampu beramal.” (Ash-Shaffaat: 61).
Terkadang manusia mengalami masa-masa lemah dan bosan yang pada saat itu dia lalai dari mengingat Allah dan terputus hubungannya dengan Pencipta dan Pelindungnya, Allah Ta’ala, sehingga dia memperturutkan hawa nafsunya. Pada saat itulah setan berhasil ‘menangkapnya’ lalu mengendalikannya sehingga dia terjerumus ke dalam jurang kebinasaan. Allah Ta’ala berfirman,
فَخَلَفَ مِن بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلاَةَ واتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا
“Kemudian datanglah setelah mereka, pengganti yang mengabaikan shalat dan mengikuti keinginannya, maka mereka kelak akan tersesat.” (QS. Maryam: 59)
Setelah menjerat manusia dengan perbuatan maksiat, lalai dari mengingat Allah, dan menyimpang dari ajaran agama Allah, setan yang terkutuk menambahnya dengan sikap putus asa dari rahmat dan ampunan Allah serta mencegahnya untuk bertobat. Hal itu agar manusia tidak dapat bangkit setelah terpuruk dalam lembah dosa karena setan takut jika manusia bertaubat, memohon ampunan dan kembali ke jalan Allah Ta’ala seperti yang dilakukan bapaknya dahulu kala yakni AdamAlaihissalam. Allah Ta’ala berfirman,
فَتَلَقَّى آدَمُ مِن رَّبِّهِ كَلِمَاتٍ فَتَابَ عَلَيْهِ إنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ
Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, lalu Dia pun menerima tobatnya. Sungguh, Allah Maha Penerima tobat, Maha Penyayang. (QS Al Baqarah: 37).
Setan yang terkutuk senantiasa merayu manusia untuk melakukan perbuatan maksiat dan menjadikannya terasa indah dalam pandangan sehingga dengan mudah setan menceburkannya ke dalam kubangan dosa. Jika manusia telah melakukan dosa maka setan membuatnya memandang dosa itu sangat besar di matanya sehingga dia putus asa dari ampunan Allah. Setan lalu mempermalukannya ketika dia melakukan maksiat, sehingga dirinya terasa hina dan akhirnya tidak mau mencari jalan selamat. Ketahuilah, di antara bentuk kasih sayang Allah terhadap makhluk-Nya adalah menutup kesalahanmu sekalipun kamu mendurhakai-Nya. Sementara itu, setan akan mempermalukanmu walaupun kamu mematuhinya agar kamu tidak mau bertobat dan memohon ampunan kepada AllahTa’ala, lalu dia berlepas diri darimu. Allah Ta’ala berfirman tentang perkataan setan kepada orang-orang munafik yang mematuhinya selama hidup di dunia,
قَالَ إنِّي بَرِيءٌ مِّنكَ إنِّي أَخَافُ اللهَ رَبَّ العَالَمِينَ
“…ia berkata, sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu, karena sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan seluruh alam.” (QS Al Hasyr: 16).
Berkaitan dengan sifat manusia yang berputus asa dari rahmat-Nya, Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang berfirman,
قُلْ يَا عِبَادِى الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنفُسِهِمْ لا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللهِ إنَّ اللهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيْعًا إنَّهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ
Katakanlah, “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang. (QS. Az-Zumar: 53)
Jadi, ada beberapa hal yang mesti diperhatikan oleh manusia yaitu:
Pertama, tidak berputus asa dari rahmat Allah karena rahmat-Nya sangat luas dan mencakup semua makhluk-Nya.
Kedua, kembali kepada Allah dan berserah diri kepada-Nya. Allah Ta’ala berfirman,
وأَنِيبُوا إلَى رَبِّكُمْ وأَسْلِمُوا لَهُ مِنْ قَبْلِ أَن يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ ثُمَّ لاَ تُنْصَرُونَ
“Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu, kemudian kamu tidak dapat ditolong.” (QS.Zumar: 54)
Ketiga, memperbaiki jalan hidup dengan mengikuti syariat dan ajaran agama AllahTa’ala seperti yang disinyalir dalam firman-Nya,
واتَّبِعُوا أَحْسَنَ مَا أُنزِلَ إلَيْكُم مِّن رَّبِّكُم مِّن قَبْلِ أَن يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ بَغْتَةً وأَنتُمْ لاَ تَشْعُرُونَ
Dan ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu (Al-Qur’an) dari Tuhanmu sebelum datang azab kepadamu secara mendadak, sedang kamu tidak menyadarinya.” (QS. Zumar: 55)
Apa yang berlaku bagi individu berlaku pula untuk kelompok, masyarakat, dan bangsa. Jika satu bangsa lalai dari mengingat Allah, melanggar ajaran agama-Nya, meremehkan syariat-Nya, mengikuti hawa nafsu, melakukan kezaliman, menghormati orang-orang yang bermoral rendah dan menindas para da`i dan orang-orang yang melakukan perbaikan, niscaya bangsa itu akan terseret ke dalam budaya primitif bahkan bisa lenyap dari atas bumi. Allah Ta’ala berfirman,
وإذَا أَرَدْنَا أَن نُّهْلِكَ قَرْيَةً أَمَرْنَا مُتْرَفِيهَا فَفَسَقُوا فِيهَا فَحَقَّ عَلَيْهَا القَوْلُ فَدَمَّرْنَاهَا تَدْمِيْرًا
Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang yang hidup mewah di negeri itu (agar menaati Allah), tetapi bila mereka melakukan kedurhakaan di dalam (negeri) itu, maka sepantasnya berlakulah terhadapnya perkataan (hukuman Kami), kemudian Kami binasakan sama sekali (negeri itu). (QS Al Israa`: 16)
Firman Allah Ta’ala,
واتَّقُوا فِتْنَةً لاَ تُصِْيبَنَّ الَّذِيْنَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً
Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu… (QS. Anfaal: 25)
Firman Allah Ta’ala,
وَكَأَيِّن مِّن قَرْيَةٍ أَمْلَيْتُ لَهَا وَهِيَ ظَالِمَةٌ ثُمَّ أَخَذْتُهَا وَإلَيَّ الْمَصِيْرُ
“Dan berapa banyak negeri yang Aku tangguhkan (penghancuran)nya, karena penduduknya berbuat zalim, kemudian Aku azab mereka, dan hanya kepada-Kulah tempat kembali (segala sesuatu).” (Al-Hajj: 48).
Orang-orang yang mengikut kebenaran tidak pernah berputus asa. Mereka memperbaiki diri mereka sendiri dengan bertaubat dan kembali menaati Allah. Setelah itu mereka menyeru masyarakat untuk bertaubat dari perbuatan maksiat dan doa yang dapat membinasakan dan kembali kepada ajaran agama Allah dengan hikmah dan pengajaran yang baik. Orang-orang ini akan menemui di jalan dakwah berbagai penindasan dan penganiayaan dari orang-orang zalim yang memanfaatkan situasi ketika manusia berada dalam kesesatan dan menyimpang dari ajaran agama seperti yang diterangkan dalam firman Allah Ta’ala,
الَّذِينَ يَصُدُّوْنَ عَنْ سَبِيْلِ اللهِ ويَبْغُونَهَا عِوَجًا وهُمْ بِالآخِرَةِ كَافِرُوْنَ
“(yaitu) orang-orang yang menghalang-halangi (orang lain) dari jalan Allah dan ingin membelokkannya. Mereka itulah yang mengingkari kehidupan akhirat.” (QS Al A’raaf: 45)
Di antara penyeru ke jalan yang sesat, penyimpangan agama, dan memperturutkan hawa nafsu ada yang mempunyai sifat seperti yang difirmankan Allah Ta’ala,
ويُرِيدُ الَّذِينَ يَتَّبِعُوْنَ الشَّهَوَاتِ أَن تَمِيْلُوا مَيْلاً عَظِيْمًا
“…sedang orang-orang yang mengikuti keinginannya menghendaki agar kamu berpaling sejauh-jauhnya (dari kebenaran).” (QS. An-Nisaa`: 27)
Sementara itu, kalangan awam di dalam masyarakat ada yang mengikuti para penyeru ke jalan yang sesat itu bahkan tunduk kepadanya. Allah Ta’ala berfirman,
فَاسْتَخَفَّ قَوْمَهُ فَأَطَاعُوهُ إنَّهُمْ كَانُوا قَوْمًا فَاسِقِينَ
“Maka (Fir‘aun) dengan perkataan itu telah memengaruhi kaumnya, sehingga mereka patuh kepadanya. Sungguh, mereka adalah kaum yang fasik” (QS. Az-Zukhruf: 54).
Tantangan untuk memperbaiki bumi setelah rusak telah berada di depan mata namun pada saat yang bersamaan mucullah orang-orang yang sinis dan ingin menggagalkan usaha ini. Tindakan kita untuk menghadapi mereka hanyalah teguh pendirian, tegar, dan yakin kepada pertolongan Allah. Allah Ta’ala berfirman,
وإذْ قَالَتْ أُمَّةٌ مِّنْهُمْ لِمَ تَعِظُوْنَ قَوْمًا اللهُ مُهْلِكُهُمْ أَوْ مُعَذِّبُهُمْ عَذَابًا شَدِيدًا قَالُوا مَعْذِرَةً إلَى رَبِّكُمْ ولَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ
“Dan (ingatlah) ketika suatu umat di antara mereka berkata, “Mengapa kamu menasihati kaum yang akan dibinasakan atau diazab Allah dengan azab yang sangat keras?” Mereka menjawab, “Agar Kami mempunyai alasan (lepas tanggung jawab) kepada Tuhanmu, dan agar mereka bertakwa.” (QS Al A’raaf: 164)
Firman Allah Ta’ala,
إنَّهُ لا يَيْأَسُ مِن رَّوْحِ اللهِ إِلاَّ الْقَوْمُ الْكَافِرُوْنَ
“…Sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah, hanyalah orang-orang yang kafir.” (QS. Yusuf: 87).
Kita dituntut untuk bekerja, berusaha, bersegera melakukan hal-hal yang baik dan berlomba-lomba untuk mencapai tujuan. Kita tidak dituntut untuk memikirkan hasil dari usaha yang akan kita dapatkan kelak. Kita hanya diperintahkan untuk untuk bekerja dengan semaksimal mungkin dan tulus karena Allah, adapun hasilnya maka kita serahkan sepenuhnya kepada Allah semata seperti yang disebutkan dalam firman-Nya Ta’ala,
تُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وتُذِلُّ مَن تَشَاءُ بِيَدِكَ الْخَيْرُ إنَّكَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ
“…Engkau muliakan siapa pun yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan siapa pun yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sungguh, Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.” (QS. Ali Imraan: 26).
Kita akan bangkit bersama bangsa kita dan akan menghancurkan semua belenggu yang menghalangi dan menghambat kita untuk maju dan berjaya. Kita akan memancarkan mata air di seluruh pelosok negeri dengan penuh keyakinan kepada Allah dan kekuasan-Nya sangat luas dan tak terbatas. Allah Ta’ala berfirman,
ولَوْ أَنَّ أَهْلَ القُرَى آمَنُوا واتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ واْلأَرْضِ
Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi…. (QS Al A’raaf96)
Firman Allah Ta’ala,
وأَن لَّوِ اسْتَقَامُوا عَلَى الطَّرِيقَةِ لأَسْقَيْنَاهُم مَّاءً غَدَقًا
“Dan sekiranya mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), niscaya Kami akan mencurahkan kepada mereka air yang cukup.” (QS Al Jinn: 16)
Firman Allah Ta’ala,
فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إنَّهُ كَانَ غَفَّارًا * يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُم مِّدْرَارًا * ويُمْدِدْكُم بِأَمْوَالٍ وبَنِينَ ويَجْعَل لَّكُمْ جَنَّاتٍ ويَجْعَل لَّكُمْ أَنْهَارًا
“Maka aku berkata (kepada mereka), “Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu, Sungguh, Dia Maha Pengampun, niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu, dan Dia memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan mengadakan kebun-kebun untukmu dan mengadakan sungai-sungai untukmu.(QS. Nuh: 10-12).
Dengan izin Allah dan kekuatan-Nya kita akan membantu orang-orang yang tertindas di muka bumi, membela kebenaran, menegakkan keadilan, dan membebaskan kota suci kita Palestina meskipun para musuh menjajah, menduduki, dan mengubahnya sesuai dengan keinginan mereka bahkan berusaha untuk merobohkan dan membakarnya serta melancarkan gerakan Yahudisasi di sana. Kita yakin akan jaji Allah untuk hamba-hamba-Nya yang ikhlas, berjihad, bertobat, beribadah dan memuji-Nya. Sungguh Allah Ta’ala telah berfirman,
فَإذَا جَاءَ وعْدُ اْلآخِرَةِ لِيَسُوؤُوا وجُوهَكُمْ ولِيَدْخُلُوا الْمَسْجِدَ كَمَا دَخَلُوْهُ أَوَّلَ مَرَّةٍ ولِيُتَبِّرُوا مَا عَلَوْا تَتْبِيْرًا
Apabila datang saat hukuman (kejahatan) yang kedua, (Kami bangkitkan musuhmu) untuk menyuramkan wajahmu lalu mereka masuk ke dalam mesjid (Masjidil Aqsa), sebagaimana ketika mereka memasukinya pertama kali dan mereka membinasakan apa saja yang mereka kuasai. (QS Al Israa`: 7)
Firman Allah Ta’ala,
وَعْدَ اللهِ لاَ يُخْلِفُ اللهُ وَعْدَهُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لاَ يَعْلَمُوْنَ
(Itulah) janji Allah. Allah tidak akan menyalahi janji-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (QS. Ar-Ruum: 6).
Mari kita semua bertobat kepada Allah, marilah segera kembali menaati Allah secara individual maupun kolektif, baik masyarakat maupun pemerintah.
Marilah kita kembali mengamalkan ajaran agama Allah, syariat-Nya dan hukum-hukum-Nya. Ingatlah wahai manusia, sungguh Allah telah berfirman kepada kalian ketika kalian masih berada dalam kandungan, Bukanlah Aku ini Tuhanmu?” dan kalian semua menjawab, “Betul, Engkau Tuhan kami, kami bersaksi.”
Ingatlah, ketika Allah menciptakan kita dalam beragam bangsa, suku, warna kulit, bahasa, dan dialek tidak lain adalah agar kita saling mengenal dan mengisi kekurangan satu sama lain bukan untuk berperang dan saling bermusuhan. Sungguh Allah Ta’ala telah berfirman,
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوْبًا وقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللهِ أَتْقَاكُمْ إنَّ اللهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ
Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti (QS Al Hujuraat: 13).
Marilah bersama kita mengembalikan kedamaian dan kebahagiaan kepada semua manusia dengan nilai-nilai kebajikan, keutamaan, kebenaran, keadilan dan akhlak yang baik. Itulah di antara sepuluh perintah dalam wahyu yang turun dari langit. Allah Ta’ala berfirman,
إنَّ هَذَا لَفِي الصُّحُفِ الأُوْلَى * صُحُفِ إبْرَاهِيمَ ومُوسَى
Sesungguhnya ini terdapat dalam kitab-kitab yang dahulu, (yaitu) kitab-kitab Ibrahim dan Musa.” (QS Al A’laa: 18-19)
Waspadalah terhadap ancaman Allah yang disebutkan dalam ayat terakhir dari Al-Qur`an yang turun kepada Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam dan merupakan penutup wahyu langit untuk segenap manusia di jagat raya. Allah Ta’alaberfirman,
واتَّقُوا يَوْمًا تُرْجَعُونَ فِيْهِ إلَى اللهِ ثُمَّ تُوَفَّى كُلُّ نَفْسٍ مَّا كَسَبَتْ وهُمْ لاَ يُظْلَمُونَ
Dan takutlah pada hari (ketika) kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian setiap orang diberi balasan yang sempurna sesuai dengan apa yang telah dilakukannya, dan mereka tidak dizalimi (dirugikan) (QS Al Baqarah: 281).
Ya Allah saksikanlah, sungguh aku telah menyampaikannya.
Kairo, 6 September 2012