SELAMAT DATANG DI BLOG KOLEKSI TAUJIH

Semoga Bermanfaat

Selasa, 19 Agustus 2014

Bunuhlah setiap waktu kosong dengan 'pisau' kesibukan!

'Aidh al-Qarni

Orang-orang yang banyak menganggur dalam hidup ini, biasanya akan menjadi penebar isu dan desas desus yang tak bermanfaat. Itu karena akal pikiran mereka selalu melayangdayang tak tahu arah. Dan,
Saat paling berbahaya bagi akal adalah manakala pemiliknya menganggur dan tak berbuat apa-apa. Orang seperti itu, ibarat mobil yang berjalan dengan kecepatan tinggi tanpa sopir, akan mudah oleng ke kanan dan ke kiri.

Bila pada suatu hari Anda mendapatkan diri Anda menganggur tanpa kegiatan, bersiaplah untuk bersedih, gundah, dan cemas! Sebab, dalam keadaan kosong itulah pikiran Anda akan menerawang ke mana-mana; mulai dari mengingat kegelapan masa lalu, menyesali kesialan masa kini, hingga mencemaskan kelamnya masa depan yang belum tentu Anda alami. Dan itu, membuat akal pikiran Anda tak terkendali dan mudah lepas kontrol. Maka dari itu, saya nasehatkan kepada Anda dan diriku sendiri bahwa mengerjakan amalan-amalan yang bermanfaat adalah lebih baik daripada terlarut dalam kekosongan yang membinasakan. Singkatnya, membiarkan diri dalam kekosongan itu sama halnya dengan bunuh diri dan merusak tubuh dengan narkoba.

Waktu kosong itu tak ubahnya dengan siksaan halus ala penjara Cina; meletakkan si narapidana di bawah pipa air yang hanya dapat meneteskan air satu tetes setiap menit selama bertahun-tahun. Dan dalam masa penantian yang panjang itulah, biasanya seorang napi akan menjadi stres dan gila.

Berhenti dari kesibukan itu kelengahan, dan waktu kosong adalah pencuri yang culas. Adapun akal Anda, tak lain merupakan mangsa empuk yang siap dicabik-cabik oleh ganasnya terkaman kedua hal tadi; kelengahan dan si "pencuri".

Karena itu bangkitlah sekarang juga. Kerjakan shalat, baca buku, bertasbih, mengkaji, menulis, merapikan meja kerja, merapikan kamar, atau berbuatlah sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain untuk mengusir kekosongan itu! Ini, karena aku ingin mengingatkan Anda agar tidak berhenti sejenak pun dari melakukan sesuatu yang bermanfaat.

Bunuhlah setiap waktu kosong dengan 'pisau' kesibukan! Dengan cara itu, dokter-dokter dunia akan berani menjamin bahwa Anda telah mencapai 50% dari kebahagiaan. Lihatlah para petani, nelayan, dan para kuli bangunan! Mereka dengan ceria mendendangkan lagu-lagu seperti burung-burung di alam bebas. Mereka tidak seperti Anda yang tidur di atas ranjang empuk, tetapi selalu gelisah dan menyeka air mata kesedihan.


*Isi Waktu Luang Dengan Berbuat! (Laa Tahzan)

Kamis, 27 Februari 2014

Taujih : Dzikurul Maut

I. Pendahuluan
Hal yang paling menyakitkan bagi kebanyakan orang adalah kematian. Bila diceritakan tentang kematian seolah-olah berakhirlah segalanya. Musnah sudah semua yang sudah dirintis dan diusahakannya. Berakhir sudah episode kehidupannya. Berhenti kisah hidupnya. Tak ada lagi yang dapat dilakukan, hanya tinggal mengenang dirinya.
Bagi seorang muslim kematian merupakan bagian dari episode kehidupan yang masih ada kelanjutannya. Tidak berhenti di pintu gerbang kematian saja. Kehidupan di dunia adalah ladang bagi kehidupan selanjutnya, di mana kehidupan tersebut adalah kekal abadi. Oleh karena itu bagi seorang muslim, kematian adalah pintu gerbang yang mengarahkan seseorang menuju keadaan dimana ia akan mendapat balasan atas segala perbuatannya. balasan itu berujung pada dua cabang, yaitu kebahagiaan yang abadi atau kesengsaraan yang tak berkesudahan.
Setiap muslim diajarkan bahwa ada kehidupan setelah kematian. Dengan demikian setiap muslim diperintahkan untuk mempersiapkan diri mencari bekal sebanyak-banyaknya agar mudah dihisab nanti. Rasulullah SAW bersabda : “Orang yang cerdas adalah orang yang mengendalikan diri dan bekerja untuk kehidupan setelah kematian.” (HR. Tirmidzi)
Dzikrul maut pada dasarnya melatih jiwa untuk terus mengenal dan merasa diawasi oleh Allah SWT. Peristiwa kematian baginya bukan sesuatu yang menakutkan, bukan juga merupakan keberakhiran hidup seseorang tanpa mendapat balasan. Baginya peristiwa kematian merupakan pertemuan hamba dengan penciptanya. Agar ia dapat bertemu dengan penciptanya dalam kebahagiaan maka ia perlu menyiapkan sebaik-baiknya bekal. Dengan persiapan inilah diharapkan kelak bila saatnya tiba ia akan menghadap Rabbnya dengan keridhaan dari Rabbnya sehingga bahagia di sisi Allah selamanya.
II. Keutamaan Dzikrul Maut
1. Dzikrul maut menghindarkan diri dari kampung tipu daya dan menggiatkan persiapan untuk kampung akhirat.
Dalil Hadits : “Hadiah orang mu’min adalah kematian” (HR. Abu Dunya, Thabrani dan Al Hakim secara mursal dengan sanad hasan)
2. Dzikrul maut membongkar berbagai keburukan dunia sehingga menyadarkan manusia bahwa dunia hanyalah perhiasan yang semu tak akan kekal abadi. Dalil Hadits : “Tinggal di dunia ibarat musafir yang sedang istirahat sejenak di bawah pohon untuk kemudian pergi melanjutkan perjalanan.”
3. Dengan dzikrul maut segala kesusahan dan penderitaan dunia menjadi ringan baginya.
4. Dzikrul maut melembutkan hati dan menajamkan bashiroh. Dengan dzikrul maut setiap insan akan merasa perlu untuk memperbaiki dirinya dan terus mengupayakan amal sholeh sebanyak-banyaknya sehingga ia akan berhati-hati dan lebih menghargai orang lain karena baginya tidak ada yang abadi di dunia ini dan setiap orang berpotensi lebih baik dari dirinya, jadi ia tidak tertipu dengan kesenangan dan kebahagiaan semu.
III. Cara Menghidupkan Dzikrul Maut
Maut adalah janji Allah yang pasti sedangkan kehadirannya dapat kapan saja. Oleh karena itu kita sebaiknya selalu mengingatkan diri pada kemungkinan bahwa setiap saat maut dapat hadir menemui kita.
Untuk menghadapi maut yang akan datang kapan saja, sebaiknya setiap kita menyiapkan diri. Sebagai contoh, perbedaan orang yang bersegera menyiapkan diri dan orang yang menunda-nunda adalah ibarat menunggu tamu yang akan berkunjung sehari lagi dengan menunggu tamu yang sepekan lagi akan berkunjung. Persiapan kita tentu akan berbeda. Bila kita mengetahui tamu yang akan datang sehari lagi, kita akan merapikan kondisi rumah dengan segera, untuk menyambut tamu tersebut, sedangkan bila tamu akan datang sepekan lagi, kita tidak terburu-buru untuk merapikan rumah tersebut karena kita berpikir masih memiliki waktu yang luang untuk menyiapkannya.
Rasulullah SAW bersabda : “Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara: Masa mudamu sebelum masa tuamu; Masa sehatmu sebelum masa sakitmu; Masa kayamu sebelum masa kemiskinanmu; Masa luangmu sebelum masa sibukmu; Masa hidupmu sebelum masa kematianmu.” (HR. Abu Dunya dengan sanad hasan) dan dalam riwayat yang lain : “Dua nikmat yang disia-siakan oleh banyak orang ialah kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari)
Referensi :
1. Intisari Ihya Ulumuddin, Al Ghazali
2. Mensucikan Jiwa, Said Hawwa

Sumber : Materitarbiyah.wordpress.com

Rabu, 19 Februari 2014

Jangan rusak kebahagiaanmu dengan rasa cemas

Ibnu al Qayyim al Jauziyah berkata:

Jangan kamu rusak kebahagiaanmu dengan rasa cemas!

Jangan rusak akalmu dengan kepesimisan!

Jangan rusak keberhasilanmu dengan kepongahan!

Jangan rusak keoptimasan orang lain dengan menjatuhkan mentalnya!

Jangan rusak harimu sekarang dengan melihat hari kemaren!

Kalau kamu perhatikan kondisi dirimu, kamu pasti menemukan bahwa Allah telah memberimu segala sesuatu tanpa kamu minta.

Oleh karena itu yakinlah bahwa Allah tidak akan menghalangi dirimu dari kebutuhan yang kamu inginkan, kecuali dibalik keterhalangan itu ada kebaikan.

Barangkali saja kamu lagi tidur pulas, sementara pintu-pintu langit diketuk puluhan do'a yang ditujukan untukmu, yang berasal dari orang fakir/miskin yang kamu bantu, atau orang sedih yang kamu hibur, atau dari orang lewat yang kamu senyum kepadanya, atau orang dalam kesempitan yang kamu lapangi. Maka jangan sekali-kali memandang kecil segala perbuatan baik untuk selamanya.

Renungan : Jangan Berhenti Merawat Keimanan

Oleh Abdullah Haidir 

Umumnya, jalan-jalan ketaatan yang Allah berikan akan mengantarkan kita pada hidayah dan keimanan yang lebih kuat. Sebaliknya, jalan-jalan keburukan dan kemaksiatan yang Allah larang, akan mengantarkan kita pada kelemahan iman dan kesesatan.

Akan tetapi, jangan pernah berhenti pada kondisi yang kita alami sekarang ini. Jika kita berada dalam hidayah, jangan sombong, seakan-akan keselamatan telah diboyong. Sedangkan jika kita berada dalam kubangan dosa, bertaubatlah segera. Jangan putus asa, seakan tidak ada pintu keselamatan yang terbuka.

Prinsipnya…. Jangan pernah berhenti merawat, menjaga, menyuburkan keimanan, baik dengan doa, ibadah dan berbagai ketaatan serta menjauh dari kemaksiatan.

Sebab, dalam beberapa kondisi, hidayah adalah misteri;

Nabi Musa yang diasuh Fir'aun menjadi tokoh beriman dan pejuang, namun Kan'an yang diasuh oleh Nabi Nuh alaihissalam, justeru kufur dan membangkang….

Asiah isteri Fir'aun yang tinggal di istana bersamanya, tetap istiqamah dalam iman. Namun isteri Nabi Nuh dan Nabi Luth alaihimassalam justeru memilih kesesatan.

Abu Thalib yang begitu dekat dengan Rasulullah saw, meninggal tanpa membawa iman, sementara Ushairam (salah seorang shahabat yang baru masuk Islam, tak lama kemudian syahid di medan juang) di kesempatan terakhir kehidupannya membawa syahid meraih impian.

Najasyi, raja Habasyah, negeri tujuan hijrah para shahabat pertama kali, dikabarkan akhirnya menerima Islam dan mati membawa keimanan. Sementara Ubaidillah bin Jahsy yang hijrah bersama isterinya Ummu Habibah ke Habasyah untuk menyelamatkan imannya dari kekejaman kafir Quraisy, justeru di sana murtad, dan akhirnya mati dalam kekufuran.

Di negeri-negeri Islam, tidak sedikit generasi muslim yang kepincut budaya western, sedikit demi sedikit mereka menjauhi Islam sebagai pedomannya. Sementara di Eropa-Amerika yang menjadi sumber budaya tersebut, orang kafir berbondong-bondong mempelajari Islam untuk memeluknya.

Di kantor dakwah tempat saya bekerja (Riyadh), hampir setiap hari ada orang mengucapkan syahadat ingin mendapatkan nikmat Islam, tapi sekitar dua pekan lalu saya kedatangan suami yang membawa isterinya (warga Indonesia). Dia mengadu bahwa isterinya ingin keluar dari Islam...!

Allahumma yaa muqallibal quluub, tsabbit quluubanaa alaa diinik….
Allahumma tawaffana muslimiin wa alhiqnaa bisshaalihiin....

Yaa Allah yang membolakbalikkan hati, tetapkan hati kami dalam agama-Mu…
Ya Allah, matikan kami sebagai orang muslim dan kumpulkan kami bersama orang-orang saleh....

Kamis, 13 Februari 2014

Taujih : Berjuanglah Untuk Islam Walau Anda Pelaku Maksiat

 


Farid Nu'man Hasan


Apa yang kau anggap atas dirimu sendiri? Begitu banyakkah dosa dan noda? Ketahuilah, setiap manusia –siapa pun dia- juga memiliki kesalahan, dan sebaik-baik manusia yang membuat kesalahan adalah yang mau bertaubat. Mari jadilah yang terbaik…
Saudaraku …
Apa yang menghalangimu membela agamamu? Apa yang merintangimu beramal demi kejayaan Islam dan kaum muslimin? Dosa, noda, dan maksiat itu? Ketahuilah, jika kau diam saja, tidak beramal karena merasa belum pantas berjuang, masih jauh dari sempurna, maka daftar noda dan maksiat itu semakin bertambah. Itulah tipu daya setan atas anak Adam, mereka menghalangi manusia dari berjuang dan hidup bersama para pejuang, dengan menciptakan keraguan di dalam hati manusia dengan menjadikan dosa-dosanya sebagai alasan.
Saudaraku …
Hilangkan keraguanmu, karena Rabbmu yang Maha Pengampun telah berfirman:
إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ
Sesungguhnya kebaikan-kebaikan akan menghapuskan keburukan-keburukan. (QS. Hud: 114)
Hilangkan pula kebimbanganmu, karena kekasih hati tercinta, Nabi-Nya yang mulia –Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam- telah bersabda:
وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا
Ikutilah perbuatan burukmu dengan perbuatan baik, niscaya itu akan menghapuskannya. (HR. At Tirmidzi No. 1987, katanya: hasan shahih. Ahmad No. 21354, 21403, 21487, 21536, 21988, 22059, Ath Thabarani dalam Al Mu’jam Al Kabir No. 296, 297, 298, juga Al Mu’jam Ash Shaghir No. 530, Ad Darimi No. 2833, Al Hakim dalam Al Mustadrak No. 178, katanya: “Shahih, sesuai syarat Al Bukhari dan Muslim.” Disepakati oleh Imam Adz DZahabi dalam At Talkhish. Sementara Syaikh Syu’aib Al Arnauth dan Syaikh Al Albani menghasankannya dalam kitab mereka masing-masing)
Saudaraku …
Tidak usah berkecil hati dan jangan putus asa, sungguh agama mulia ini pernah dimenangkan oleh orang mulianya dan para fajir (pelaku dosa)nya. Semuanya mengambil bagian dalam gerbong caravan pejuang Islam. Imam Al Bukhari telah membuat Bab dalam kitab Shahihnya, Innallaha Yu’ayyidu Ad Diin bir Rajul Al Faajir (Sesungguhnya Allah akan menolong agama-Nya melalui seseorang yang fajir). Ya, kadang ada pelaku maksiat, seorang fajir, justru dia melakukan aksi-aksi nushrah (pertolongan) terhadap agamanya, dibanding laki-laki yang shalih. Semoga aksi-aksi nushrah tersebut bisa merubahnya dari perilaku buruknya, dan dia bisa mengambil pelajaran darinya sampai dia berubah menjadi orang shalih yang berjihad, bukan lagi orang fajir yang berjihad.
Saudaraku … Ada Abu Mihjan!!
Kukisahkan kepadamu tentang Abu Mihjan Radhiallahu ‘Anhu. Ditulis dengan tinta emas para ulama Islam, di antaranya Imam Adz Dzahabi dalam Siyar A’lamin Nubala pada Bab Sirah Umar Al Faruq. (2/448. Darul Hadits, Kairo), juga Usudul Ghabah-nya Imam Ibnul Atsir. (6/271. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah)
Beliau adalah seorang laki-laki yang sangat sulit menahan diri dari khamr (minuman keras). Beliau sering dibawa kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk diterapkan hukum cambuk (Jild) padanya karena perbuatannya itu. Bahkan Ibnu Jarir menyebutkan Abu Mihjan tujuh kali dihukum cambuk. Tetapi, dia adalah seorang laki-laki yang sangat mencintai jihad, perindu syahid, dan hatinya gelisah jika tidak andil dalam aksi-aksi jihad para sahabat nabi Radhiallahu ‘Anhum.
Hingga datanglah perang Al Qadisiyah yang dipimpin oleh Sa’ad bin Abi Waqash Radhiallahu ‘Anhu melawan Persia, pada masa pemerintahan Khalifah Umar Radhiallahu ‘Anhu. Abu Mihjan ikut andil di dalamnya, dia tampil gagah berani bahkan termasuk yang paling bersemangat dan banyak membunuh musuh. Tetapi, saat itu dia dikalahkan keinginannya untuk meminum khamr, akhirnya dia pun meminumnya. Maka, Sa’ad bin Abi Waqash menghukumnya dengan memenjarakannya serta melarangnya untuk ikut jihad.
Di dalam penjara, dia sangat sedih karena tidak bisa bersama para mujahidin. Apalagi dari dalam penjara dia mendengar suara dentingan pedang dan teriakan serunya peperangan, hatinya teriris, ingin sekali dia membantu kaum muslimin melawan Persia yang Majusi. Hal ini diketahui oleh istri Sa’ad bin Abi Waqash yang bernama Salma, dia sangat iba melihat penderitaan Abu Mihjan, menderita karena tidak dapat ikut berjihad, menderita karena tidak bisa berbuat untuk agamanya! Maka, tanpa sepengetahuan Sa’ad -yang saat itu sedang sakit, dan dia memimpin pasukan melalui pembaringannya, serta mengatur strategi di atasnya- Beliau membebaskan Abu Mihjan untuk dapat bergabung dengan para mujahidin. Abu Mihjan meminta kepada Salma kudanya Sa’ad yaitu Balqa dan juga senjatanya. Beliau berjanji, jika masih hidup akan mengembalikan kuda dan senjata itu, dan kembali pula ke penjara. Sebaliknya jika wafat memang itulah yang dia cita-citakan.
Abu Mihjan berangkat ke medan tempur dengan wajah tertutup kain sehingga tidak seorang pun yang mengenalnya. Dia masuk turun ke medan jihad dengan gesit dan gagah berani. Sehingga Sa’ad memperhatikannya dari kamar tempatnya berbaring karena sakit dan dia takjub kepadanya, dan mengatakan: “Seandainya aku tidak tahu bahwa Abu Mihjan ada di penjara, maka aku katakan orang itu pastilah Abu Mihjan. Seandainya aku tidak tahu di mana pula si Balqa, maka aku katakan kuda itu adalah Balqa.”
Sa’ad bin Abi Waqash bertanya kepada istrinya, dan istrinya menceritakan apa yang terjadi sebenarnya pada Abu Mihjan, sehingga lahirlah rasa iba dari Sa’ad kepada Abu Mihjan.
Perang usai, dan kaum muslimin menang gilang gemilang. Abi Mihjan kembali ke penjara, dan dia sendiri yang memborgol kakinya, sebagaimana janjinya. Sa’ad bin Waqash Radhiallahu ‘Anhu mendatanginya dan membuka borgol tersebut, lalu berkata:
لا نجلدك على خمر أبدا فقال: وأنا والله لا أشربها أبدا
Kami tidak akan mencambukmu karena khamr selamanya. Abu Mihjan menjawab: “Dan Aku, Demi Allah, tidak akan lagi meminum khamr selamanya!”
Saudaraku ….
Sangat sulit bagi kita mengikuti dan menyamai Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali dan para sahabat nabi yang mulia, Radhiallahu ‘Anhum. Tetapi, paling tidak kita masih bisa seperti Abu Mihjan, walau dia pelaku maksiat namun masih memiliki ghirah kepada perjuangan agamanya, dan ikut hadir dalam deretan nama-nama pahlawan Islam. Semoga Allah Ta’ala memasukkan kita ke dalam deretan para pejuang agama-Nya, mengikhlaskan, dan memberikan karunia syahadah kepada kita. Amin.
Wallahu A’lam.



Kamis, 05 Desember 2013

ARTIKEL : Pernikahan Bervisi, Idealita yang Terlalu Mengawang Tinggi



Oleh : irreplaceable_hest@yahoo.co.id

Sebuah catatan. Pernikahan adalah satu dari tiga hal yang sangat dianjurkan untuk disegerakan (ingat, bukan tergesa-gesa). Tepatnya sebuah catatan bagi para lelaki beriman (yang telah siap), juga bagi para orang tua yang memiliki anak gadis untuk bersegera menikahkan anak gadisnya dengan lelaki baik-baik dan beriman jika sudah sampai masanya.
Seorang dai bukanlah milik dirinya sendiri, bukan pula milik orang tuanya saja, juga bukan hanya milik keluarga besar, tapi seorang dai hidup untuk keluarga, dakwah dan ummat. Sampai pada saat seorang dai harus memutuskan untuk menikah, bukan hanya mengandalkan perasaan, kecendrungan, ketertarikan, ketergantungan hati, bahkan juga bukan hanya pertimbangan orang tua atau keluarga (walau hal ini juga menjadi pertimbangan, tapi tidaklah menjadikannya mengalah pada keadaan), tetapi menikahnya seorang dai jauh lebih agung dari menikahnya para lajang di luar sana, mereka memilki pertimbangan lain yang harusnya lebih didahulukan, yups… pertimbangan dakwah, ummat dan bangkitnya peradaban.
Seorang dai menikah dengan visinya yang dahsyat, bukan hanya sekedar ingin menyempurnakan dien saja, tetapi menikahnya dai untuk menjadi pondasi bagi tertegaknya dakwah, menjadi landasan bagi bangkitnya sebuah peradaban, menjadi dasar kejayaan ummat. Visi yang luar biasa, bukan visi sederhana yang bisa diraih dengan hanya berdiam diri dan berdoa saja. Visi ideal yang banyak saya temui dalam diri ikhwan dan akhwat yang berjuang demi agama ini. Mereka sangat menyadari keluarga sebagai pondasi kejayaan ummat, maka mereka rela mengorbankan “rasa” senang sementara untuk sebuah rasa yang jauh lebih nikmat untuk selamanya.
Visi ideal ini hanya akan menjadi mimpi yang mengawang dan tak dapat diraih, jika tidak didukung oleh jiwa-jiwa pemberani para ikhwan untuk menikahi akhwat tangguh dan muntijah serta matang dalam pemikiran, sikap, psikologi, amanah, dakwah dan tarbiyah. Visi ini tidak dapat dicapai jika tidak dilengkapi oleh sikap tha’at dan tsiqoh para ikhwan tangguh yang menyerahkan proses ta’arufnya pada “guru” ataupun jama’ah (bukan karena mereka tidak punya rasa, tapi justru karena mereka terlalu sensitive perasaannya). Visi ini akan kita dapati hanya tinggal puing-puing tak bernyawa jika para ikhwan masih mengalah pada syahwatnya dan pasrah pada keadaan (afwan jika ikhwan yang menjadi tertuduh, karena dalam diskusi panjang ternyata banyak akhwat yang memiliki visi ideal ini tapi hanya meratapi visi itu dalam sebuah etalase tak tersentuh, menjadi dilema!).
Dalam beberapa kisah, saya menemui banyak orang tua akhwat yang ingin anak gadisnya segera menggenapkan agamanya, bisa jadi karena factor sunnah Rasulullah (wajib bagi seorang ayah untuk bersegera menikahkan anak gadisnya), factor usia sang akhwat (yang sudah sangat matang dan dewasa: bahasa yang diperhalus), factor amanah (akhwat yang bekerja dan berdakwah di daerah terpencil yang butuh pendamping segera misalnya), factor keluarga (desakan dari banyak pihak, bahkan percobaan penjodohan _syukur gak ada pasal yang melarang penjodohan), dan factor-faktor lain yang tidak bisa diungkap secara detail. Dalam masa-masa seperti ini, akhwat berada dalam posisi yang sangat sulit, di satu sisi ingin mencapai pernikahan barokah dan muntijah sesuai dengan prinsip mereka, di sisi yang lain mereka dihadapkan pada factor-faktor di atas yang tidak bisa dielakkan.
Dilema! Begitulah posisinya. Para akhwat didesak oleh keluarga untuk segera menikah, bahkan dengan ancaman percobaan penjodohan (yang mungkin lelaki yang dipilihkan keluarga bukanlah lelaki yang buruk perangainya, bukanlah lelaki yang tidak baik ibadahnya, bukanlah lelaki yang tidak mapan imannya, hanya satu masalahnya: lelaki itu bukan seorang “al akh” yang memiliki visi yang sama dengan sang akhwat, lelaki itu tak pernah mengenal tarbiyah, apalagi dakwah, yang mungkin dinilai akan berdampak buruk pada amanah dan dakwah sang akhwat kedepannya –namun akan saya tekankan kepada akhwat: jangan terjebak dengan label “ikhwan” dan jangan tiba-tiba menolak lelaki hanif beriman yang datang tanpa terlebih dulu melibatkan Allah dalam menentukan pilihan karena itu sebuah noda kesombongan. Dan mereka, lelaki hanif yang beriman itu juga berhak untuk diistikharahkan) dan tolong dipikirkan berapa banyak energy yang habis untuk membina pasangan yang mungkin sebenarnya tidak perlu terjadi jika mereka menikah dengan al akh yang baik secara iman, dakwah, tarbiyah dan amanah. Tapi di sudut yang lain, sang akhwat menanti ikhwan bervisi yang tak kunjung datang. Menyisakan asa yang terlalu bersemangat seperti ombak, menggebu, berlari, kemudian pergi dengan segera yang hanya meninggalkan buih-buih tak berarti.
Para akhwat ditatapkan pada posisi super sulit, dari mulai sulit mengkomunikasikan visi idealnya yang terkesan agak “asing” di telinga orang tua dan keluarga (dalam hal ini akhwat tidak jarang menolak saat dijodohkan dengan lelaki yang ditawarkan keluarga yang tidak punya visi yang sama), kondisi sulit yang didesak oleh keluarga untuk segera menikah (meski banyak orang tua yang akhirnya mengambil posisi menunggu dan mengalah karena sang akhwat terlalu berharga untuk dinikahkan dengan lelaki biasa, atau mungkin bahkan karena tidak ada lelaki gagah yang dimiliki bumi yang pantas menikahinya), kondisi sulit sebagai makhluk halus paling berperasaan yang mengedepankan malu karena tidak mungkin “minta-minta” sebelum ditawarkan (karena mereka berkaca diri untuk menjadi sehebat dan semapan khadijah dalam masa sekarang), kondisi sulit dari menjawab pertanyaan-pertanyaan (baik dari keluarga, teman, kerabat, tetangga, setiap ada perhelatan pernikahan dan siapapun, mungkin bahkan pertanyaan dari dirinya sendiri) yang seharusnya tidak ditanyakan_karena pertanyaan itu hanya perlu didoakan, sebab mereka pun tak pernah tau jawabannya, dan banyak kondisi sulit yang tidak mungkin dibongkar karena terlalu rahasia.
Terkadang ditemui ikhwan yang sudah siap untuk mengambil keputusan menikah (yang terlihat dari luar: baik secara psikologis, usia, kematangan, kedewasaan dan ekonomi) yang ntah karena alasan apa lantas memilih menunda untuk menikah. Padahal tidakkah mereka mengingat pesan Rasulullah: “Barang siapa yang dimudahkan baginya untuk menikah, lalu ia tidak menikah, maka tidaklah ia termasuk golonganku” (HR. Ath Thabrani dan Al baihaqi) dan pesan Rasul yang lain “Bukan termasuk golonganku orang yang merasa khawatir dan terkungkung hidupnya karena menikah, kemudian ia tidak menikah”. Ikhwan tangguh pasti menggenggam Sunnah Rasulullah dengan gigi grahamnya.
Lelaki akan jatuh pada pandangan matanya. Menjadi niscaya ketika criteria “cantik, tinggi, putih, eye catching” menjadi syarat bagi calon pendamping. Sangat manusiawi. Tetapi ikhwan tangguh pasti bisa mengalahkan syahwatnya atas Imannya!
Cinta itu berdasarkan selera. Menjadi niscaya ketika ikhwan _yang juga dikenal sebagai manusia biasa_ menjatuhkan pilihannya pada selera cintanya tanpa mempertimbangkan kematangan sikap, psikologis, tarbiyah, dakwah dan amanah sang wanita yang dimintanya. Tetapi ikhwan hebat pasti bisa menimbang dengan prasangkanya terhadap Allah swt, pasti bisa berdamai dengan keinginan dirinya, bukannya mengalah dan melanjurkan keniscayaan itu. Karena ikhwan hebat itu sangat menyadari dan memahami taujih dari seorang Ust. Rahmat Abdullah bahwa “Dakwah adalah cinta. Dan cinta akan meminta semuanya dari dirimu. Sampai pikiranmu, perhatianmu, berjalan, duduk dan tidurmu, bahkan di tengah lelapmu, isi tidurmu pun tentang dakwah. Tentang ummat yang kau cintai. Lagi-lagi memang seperti itu dakwah. Menyedot saripati energimu, sampai tulang belulangmu, sampai daging terakhir yang menempel di tubuh rentamu. Tubuh yang luluh lantak diseret-seret. Tubuh yang hancur lebur dipaksa berlari”. Begitulah dakwah bekerja. Sangat dahsyat, mengambil seluruh perhatianmu, bahkan untuk sesuatu yang mungkin terpikir olehmu menjadi hak prerogatifmu, menikah.
Berbakti kepada orang tua adalah wajib. Menjadi niscaya seorang lelaki beriman (baca: ikhwan) tunduk pada perintah orang tua dan mengamini keinginan mereka untuk menikah dengan wanita pilihan orang tua, sekali lagi tanpa pertimbangan kematangan sikap, psikologis, tarbiyah, amanah dan dakwah. Sadarilah, bahwa ikhwan dahsyat selalu memiliki ruang untuk memilih dan menentukan sikap, karena itu standard kedewasaannya.
“Jangan mengalah pada takdir! Jangan pasrah pada keadaan!” pesan ini yang bisa disampaikan untuk para ikhwan bervisi. Mereka bisa menjadi ikhwan tangguh, hebat dan super dahsyat dengan mengalahkan syahwatnya atas imannya, dengan mengedepankan persangkaan Allah atas dirinya, dengan tetap bisa berbakti pada orang tua atas kedewasaannya.
 Jangan mengalah pada takdir! Jika ada yang lebih baik, sungguh, yang baik saja tidak cukup. JIka ada yang lebih shalih, sungguh, yang shalih saja tidak cukup. Jangan mengalah pada keadaan. Pilihlah yang terbaik dari yang baik, pilihlah yang tershalih dari yang shalih! Letaknya pada mental, bagaimana setiap diri mampu mempersiapkan mental dan dirinya menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih baik lagi setiap harinya, bagaimana setiap individu mempersiapkan diri, jiwa, dan imannya sehingga ia layak diberi yang terbaik oleh Allah!
Ya, begitulah para ikhwan dan akhwat luar biasa yang memperjuangkan visinya dalam menikah, mereka tidak perlu PEMBENARANAN makhluk atas sikapnya, mereka hanya perlu berfikir, mempertimbangkan dan memilih serta menjatuhkan pilihan dengan BENAR atas prasangkanya terhadap Allah.
Catatan: ini bukan hanya untuk ikhwan, tetapi juga akhwat. Jangan mengalah pada Takdir! Jangan pasrah pada Keadaan!
Harapan dan Doa: Semoga Allah selalu memberikan yang terbaik untuk kita, mengambil pelajaran dari setiap kejadian, semakin kuat karakter pribadi dengan ujian yang dihadapi. Aamiin Ya Rabb…

(hest, bumi Allah: 04062011: 00.12)

Senin, 25 November 2013

Tausyiah Pernikahan : Kapan Saatnya Memutuskan untuk Menikah ?

Oleh : Ustadz Cahyadi Takariawan


Pada saat saya mengisi forum Kuliah Pranikah yang digelar oleh Muslimah Care Center (MCC) Yogyakarta, saya mendapatkan pertanyaan yang menarik. ”Kapankah saat yang tepat untuk mengambil keputusan menikah?” Pertanyaan ini berkaitan dengan tiga tahap perasaan manusia kepada pasangan jenisnya yang saya jelaskan di forum itu.
Sebagaimana telah sering saya posting di Kompasiana, pernikahan adalah suatu bentuk peribadatan. Nikah tidak semata-mata karena keinginan pribadi seorang laki-laki dan perempuan, namun menikah memiliki sejumlah agenda yang sakral dan sangat menentukan masa depan peradaban kemanusiaan. Maka mengambil keputusan untuk menikah, semestinya dilakukan pada saat yang tepat. Apakah perlu menunggu jatuh cinta baru memutuskan untuk menikah?
Tiga Tahap Menuju Jatuh Cinta
Jatuh hati atau jatuh cinta, saya sebut sebagai tahap ketiga dari perasaan manusia kepada pasangan jenisnya. Ini untuk menyederhanakan pembagian atau penahapan perasaan. Saya sebut sebagai ”pasangan jenis”, bukan lawan jenis, karena Allah menciptakan laki-laki dan perempuan adalah berpasangan, bukan berlawanan. Jadi, istilah yang tepat untuk laki-laki dan perempuan bukan lawan jenis, melainkan pasangan jenis.
Tahap pertama dari perasaan seseorang kepada pasangan jenisnya adalah simpatik atau tahap ketertarikan, yaitu respons dan apresiasi positif kepada pasangan jenis. Misalnya seorang perempuan mengatakan, “Saya senang bergaul dengan Budi, karena orangnya baik dan bisa dipercaya.” Atau seorang lelaki mengatakan, “Saya senang berteman dengan Lina, karena orangnya ramah dan pandai berkomunikasi.”
Perasaan tahap pertama ini bersifat masih sangat umum, walaupun sudah mengarah kepada respons dan apresiasi yang positif. Sebab, ada respons negatif, misalnya ungkapan seorang perempuan, “Saya jengkel sekali dengan Iwan. Orangnya tidak bisa dipercaya dan semau sendiri.” Atau ungkapan seorang lelaki, “Saya tidak suka berteman dengan Reni, karena orangnya sombong.” Nah, ini contoh perasaan yang tidak simpatik.
Apabila perasaan simpatik ini dipelihara, ditambah dengan adanya interaksi dan komunikasi yang rutin serta intensif maka memiliki peluang untuk meningkat kepada tahap kedua, yang saya sebut sebagai tahap kecenderungan hati. Pada tahap ini, seseorang mulai mendefinisikan perasaannya kepada pasangan jenis, tapi belum sampai memastikan. Misalnya seorang lelaki mengatakan, “Saya cocok kalau menikah dengan Wati, dia adalah tipe perempuan idaman saya.” Artinya, lelaki ini telah memiliki kecenderungan hati kepada Wati.
Demikian pula jika seorang perempuan mengatakan, “Saya mau menjadi istrinya Darmawan. Dia lelaki harapan saya.” Artinya, perempuan ini telah memiliki kecenderungan hati kepada Darmawan. Pada tahap kedua ini, perasaan semakin kuat pada pasangan jenis yang diharapkan akan menjadi pendamping hidupnya. Sifat perasaan pada tahap kedua ini masih cenderung rasional, masih bisa dikendalikan, dan masih bisa menerima masukan.
Apabila kecederungan hati ini dipelihara, ditambah dengan adanya interaksi rutin serta intensif, akan memiliki peluang untuk memasuki tahap ketiga, yaitu jatuh hati atautahap ketergantungan hati. Sebagian orang menyebutnya dengan jatuh cinta. Pada tahap ini, seseorang telah memastikan hubungan dengan pasangan jenis yang diharapkan menjadi pendamping hidupnya. Seorang lelaki mengatakan, “Dian adalah satu-satunya perempuan ideal bagiku, tiada yang lain. Saya akan menikahinya.” Atau seorang perempuan mengatakan, “Karim adalah satu-satunya lelaki ideal bagiku. Rasanya aku tak sanggup berpisah dengannya.”
Ya, inilah jatuh hati. Perasaan pada tahap ketiga ini tidak terdefinisikan, sulit dikendalikan, dan bercorak tidak rasional. Vina Panduwinata mengatakan, “Ternyata asmara tak sama dengan logika.” Siti Nurhaliza mengungkapkan, jatuh cinta itu “Tidur tak lena, mandi tak basah.” Bahkan, musisi Gombloh mengistilahkan ”tai kucing rasa coklat”. Dengan menyebut nama-nama penyanyi jadul ini, Anda sudah mengetahui berapa usia saya :)
Saya menyebut tahap ini sebagai jatuh hati, karena hatinya telah jatuh ke pangkuan pasangan jenis yang diidamkannya. Saya sebut juga sebagai ketergantungan hati, karena hati telah tergantung kepada seorang calon pendamping hidup. Ia sudah sulit untuk berpindah atau berpaling ke lain hati.
Kondisi Jatuh Hati
Pada tahap ini, seseorang sudah sulit menerima masukan dari orang lain. Apabila dikatakan kepada seorang perempuan, “Hati-hati kamu berinteraksi dengan Andi. Dia itu tipe lelaki playboy, suka berganti-ganti pacar.” Pada tahap ketiga ini, perempuan tersebut akan melakukan pembelaan secara emosional, tidak rasional. Biasanya dia akan mengatakan, “Kamu tidak mengerti siapa Andi. Aku yang lebih mengerti tentang Andi. Dia tidak seperti yang kamu tuduhkan.”
Perempuan yang jatuh cinta menjadi gelap mata. Ia tidak melihat ada laki-laki lain, kecuali si dia. Jatuh cinta telah membuatnya tidak bisa melihat sisi-sisi kekurangan dari si dia. Semua menjadi serbaindah, semua menjadi serbabaik. Kelak ketika sudah menikah, lalu ternyata keluarganya banyak masalah, ia baru sadar bahwa pilihannya menikah dengan si dia kurang cukup pertimbangan. Jatuh cinta telah membutakan mata hati dan kejernihan pikirannya.
Jika lelaki telah berada pada tahap ketiga ini, ia akan sulit mengontrol perilakunya kepada perempuan yang dicintai. Jika ada yang memberi nasihat, “Hati-hati kamu, jangan dekat-dekat dengan perempuan itu, dia bukan tipe yang cocok untuk kamu,” maka lelaki ini akan melakukan pembelaan. “Kamu selalu mencurigai orang lain. Dia itu perempuan terbaik yang pernah aku jumpai. Dia bisa mengerti kemauanku, dan bisa menjadi tempat untuk berbagi. Dia selalu memberi motivasi sehingga hidupku lebih bersemangat”
“Saya belum pernah merasakan suasana hati seperti ini. Sungguh, saya telah berjumpa bidadari. Dia sangat care, dan benar-benar memberikan support terhadap aktivitas saya. Setiap kali berbincang, kami selalu nyambung. Rasanya nyaman sekali ngobrol dengan dia.” Inilah ungkapan orang jatuh cinta.
“Saya tidak gelap mata. Saya telah membandingkan banyak perempuan di mana-mana, dan hanya dia yang bisa mengerti semua kebutuhan saya. Luar biasa, dia sangat istimewa di mata saya. Tak ada bandingannya di mana pun juga. Tak mungkin saya melepaskannya.” Begitulah bahasa dan ungkapan orang jatuh cinta, sangat khas. Kecerdasan orang berkurang 85,97% saat jatuh cinta. Tiba-tiba ia kehilangan rasionalitas, dan sangat melankolis.
Tidak Rasional
Sering kali dijumpai peristiwa yang sangat aneh dalam pandangan akal sehat. Terkadang seorang lelaki muda belia jatuh cinta kepada perempuan paruh baya yang telah memiliki suami dan beberapa anak. Ia tidak cantik, tidak seksi, tidak ideal secara fisik, dan tidak pula kaya. Lalu apanya yang menyebabkan lelaki ini tergila-gila? Mengapa ia tidak tertarik dengan anak perempuannya yang masih muda dan lebih cantik? Ingat, ‘bukan karena apa-apa’, tapi semua bisa bermula dari interaksi dan komunikasi, sehingga menimbulkan ketergantungan hati.
Terkadang, seorang laki-laki gagah dan cakep jatuh cinta kepada seorang perempuan bersuami dan memiliki beberapa anak, yang penampilannya sangat biasa. Ia bukan perempuan cantik mempesona, bukan perempuan yang ideal fisiknya, juga bukan perempuan kaya raya; namun ia demikian tergila-gila dengan perempuan tersebut. Apa sih yang dicari dari perempuan itu?
“Dia sangat mengerti saya. Orangnya memang sederhana dan bersahaja. Namun, banyak hal saya dapatkan darinya,” begitu jawabnya. Sekali lagi, bukan ‘mengapa bisa jatuh cinta kepada perempuan biasa’, karena semua bisa bermula dari interaksi dan komunikasi. Semua menjadi mungkin bagi manusia. “Yang jelas, ia memang sangat istimewa. Di balik penampilannya yang sangat biasa, tersimpan daya tarik yang luar biasa,” jawabnya masih membela diri.
Sulit diterima dengan akal sehat, sulit untuk dimengerti kondisi itu secara pandangan logika. Karena jatuh cinta memang tidak sama dengan jalan logika.
Ambil Keputusan dengan Akal Sehat dan Hati Bersih
Nah, karena situasi orang yang jatuh cinta itu tidak rasional, sebaiknya Anda memutuskan untuk menikah dengan seseorang, pada kondisi yang masih rasional. Pada saat hubungan Anda dengan si dia belum sampai pada tahap ketiga. Dengan demikian, semua masih bisa dipertimbangkan, tidak membabi buta. Anda masih bisa memperbincangkan, mendiskusikan, memusyawarahkan soal pilihan pasangan hidup Anda dengan orang-orang yang Anda percaya. Saat mengambil keputusan menikah, harus berada dalam situasi bisa dipertanggungjawabkan dan berada dalam kesadaran yang utuh.
Jangan biarkan hati dan pikiran Anda dikuasai syahwat, yang menjerat akal sehat Anda sehingga tidak bisa lagi berpikir secara jernih. Ingatlah, menikah adalah untuk selamanya. Menikah itu tidak boleh diberi catatan kaki “jika tidak cocok, kita bisa bercerai”. Dalam ajaran agama, perceraian adalah perbuatan halal yang dibenci Tuhan. Artinya, agama mempersulit jalan untuk perceraian, namun mempermudah jalan untuk pernikahan.
Biarlah hati bersih dan akal sehat Anda menimbang secara jujur tentang pilihan pasangan hidup yang akan mendampingi Anda “selama-lamanya”. Ingat kata “selama-lamanya” ini, ingat ungkapan Susannah Fincannon yang pernah berjanji kepada Tristan untuk menunggu dia pulang, dan akan tetap setia menunggu Tristan “selama-lamanya”. Namun terlalu lama Susannah menunggu Tristan yang tidak kunjung pulang, sampai akhirnya memutuskan untuk menikah dengan Alfred, saudara Tristan.
“Ternyata selama-lamanya itu lama,” kata Susannah. Itu kisah dari “Legends of The Fall”.
Ya, jangan dikira “selama-lamanya” itu cuma sebentar…. Maka ketika mengambil keputusan yang berdampak “selama-lamanya” harus dalam kondisi akal sehat dan hati bersih. Jangan memutuskan pada kondisi akal sehat sudah tidak berfungsi karena terlanjur jatuh cinta.
Mertosanan Kulon, Potorono, Banguntapan, Bantul, DIY, 55196